
Di tengah kehidupan yang semakin cepat dan penuh pressure, kesehatan mental menjadi topik yang kian sering dibicarakan. Mulai dari stres karena kuliah, kerjaan, atau bahkan menganggur yang menyebabkan ovt dan cemas tentang masa depan, hingga rasa hampa yang muncul tiba-tiba tanpa sebab. Banyak orang mencari jalan keluar dari terapi psikologis, meditasi, aktivitas seni atau mungkin bahkan ke hal-hal negatif seperti meminum minuman keras hingga narkoba. Namun, satu hal yang kadang terlupakan adalah ibadah, yang ternyata
memiliki kekuatan luar biasa dalam menjaga dan memulihkan kesehatan mental. Bagi banyak orang, ibadah hanya dipahami sebatas kewajiban spiritual. Padahal, jika dijalani dengan hati yang sadar dan tenang, ibadah bisa menjadi sarana refleksi, penenang pikiran, dan bahkan penyembuh luka batin.
Ibadah Sebagai Momen Melepas Beban
Salah satu beban terbesar yang dirasakan seseorang saat mengalami gangguan mental adalah perasaan tertekan dan kehilangan arah. Dalam kondisi seperti ini, hati sering kali merasa sesak dan pikiran sulit dikendalikan. Ibadah seperti salat, doa, dzikir, atau membaca kitab suci bisa menjadi momen untuk ‘berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia’.
Saat salat, kita diwajibkan untuk “tumaninah” yakni hening, fokus, tenang dan menyatu dengan Sang Pencipta. Dalam keheningan itu, secara tidak sadar tubuh dan pikiran mulai menyesuaikan diri, bernapas lebih teratur, gerakan tubuh menjadi ritmis, dan hati perlahan-
lahan terasa lebih ringan. Bahkan dalam ilmu psikologi, praktik seperti mindfulness dan meditasi terbukti membantu menenangkan pikiran. Menariknya, ibadah juga memiliki unsur mindfulness, terutama ketika dilakukan dengan khusyuk dan penuh kesadaran.
Menguatkan Mental Lewat Hubungan Spiritual
Kesehatan mental tidak hanya soal kemampuan berpikir rasional, tetapi juga soal makna dan kepercayaan. Banyak orang yang mengalami kecemasan karena merasa tidak berdaya, tidak berguna, atau merasa hidupnya tidak berarti. Di sinilah spiritualitas berperan.
Dalam ibadah, kita diingatkan bahwa kita tidak sendirian. Ada Tuhan yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui, dan Maha Penyayang. Yakin kalo ada kekuatan yang lebih besar yang selalu mendampingi, memberi harapan, dan mengampuni, menjadi sumber kekuatan mental yang sangat penting.
Rasa berserah (tawakal), rasa syukur, dan doa yang tulus semuanya adalah bagian dari ibadah yang membantu membentuk mental yang lebih tenang, kuat, dan tahan terhadap tekanan hidup. Ibadah
Menumbuhkan Rasa Syukur dan Kesadaran Diri
Salah satu penyebab umum gangguan mental adalah fokus berlebihan pada hal yang belum dimiliki, atau terus-menerus membandingkan diri dengan orang lain. Ini memicu stres, rasa rendah diri, bahkan depresi. Ibadah mengajarkan kita untuk melihat ke dalam diri, dan bersyukur atas hal-hal kecil yang sering terlupakan. Ketika kita mengucap syukur dalam doa, kita sedang melatih otak untuk melihat sisi baik dari kehidupan. Hal ini secara ilmiah terbukti dapat meningkatkan hormon serotonin dan dopamine dua hormon yang berperan besar dalam menciptakan rasa bahagia dan tenang.
Closing statement as motivation, yakni “Menjadikan Ibadah sebagai Gaya Hidup Mental Sehat”
Ibadah bukan hanya ritual, tetapi juga jalan untuk menemukan kembali diri kita yang sejati. Di Tengah hiruk pikuk dunia yang sering membingungkan dan melelahkan, ibadah bisa menjadi pelabuhan hati yang menenangkan. Membaca al-qur’an menjadikan makanan bagi
ruhiyah kita/ interaksi kita indirectly pada allah SWT, agar diberi ketenangan jiwa dan hati. Kesehatan mental bukan hanya urusan profesional seperti psikolog atau psikiater. Kita juga punya peran untuk menjaganya sendiri salah satunya dengan menjadikan ibadah sebagai gaya hidup, bukan hanya rutinitas.
Saat pikiran mulai berat, hati terasa kosong, atau hidup kehilangan arah, cobalah kembali ke tempat yang sunyi dan dekatkan diri kepada Tuhan. Mungkin jawabannya bukan di luar sana, tetapi di dalam doa ketika sujud yang engkau bisikan pada bumi hingga langit mendengar.
Penulis: Amri Kusnan / Santri Pesmadai




