
Mahasiswa seorang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi seperti universitas, institute, sekolah tinggi, politeknik, akademi, atau akademi komunitas. Dalam menempuh pendidikan tinggi mahasiswa akan menemui tiga pilihan. Pertama pulang pergi (PP) karena faktor jarak yang masih bisa untuk dimaklumi, kedua ngekos disekitar kampus karena jarak tempat tinggal asal yang tak masuk diakal dan kebutuhan akan kebebasan dan kemandirian, ketiga masuk pesantren mahasiswa yang menawarkan fasilitas lengkap dan lingkungan yang mendukung akademik.
Saat menempuh masa studi dan kesibukan organisasi seringkali mahasiswa abai akan kesehatan diri sendiri. SKS atau sistem kebut semalam sering diterapkan oleh mahasiswa karena dirasa deadline lebih menantang dan perasaan bergairah dalam jiwa mendorong semangat saat menggarap tugas. Jam tidur yang berantakan, pola makan yang acak-acakan, mental yang berantakan, bahkan sekadar mandi dipagi hari sering di skip. Kamar tidur yang tidak bersih dan jorok menjadi sumber penyakit bagi manusia di dalamnya dalam hal ini mahasiswa. Saat mahasiswa sakit akan ada dampak akademik dan psikologis yang ditimbulkan diantaranya :
- Kehilangan SKS:
Jika sakitnya menyebabkan mahasiswa tidak dapat mengikuti perkuliahan atau ujian, ada kemungkinan kehilangan Satuan Kredit Semester (SKS) atau nilai mata kuliah. - Keterlambatan Studi:
Sakit yang berkepanjangan dapat menyebabkan keterlambatan studi karena mahasiswa perlu fokus pada pemulihan. - Stres:
Sakit juga dapat memicu stres pada mahasiswa, terutama jika sakit tersebut mengganggu aktivitas perkuliahan atau kehidupan sosial. - Depresi:
Dalam beberapa kasus, sakit yang berkepanjangan atau masalah kesehatan mental dapat menyebabkan depresi pada mahasiswa
Dan banyak lagi yang ditimbulkan ketika sakit, maka dari itu kita sebagai mahasiswa perlu menjaga Kesehatan.
Tujuan dari essay ini adalah untuk mengkaji berbagai permasalahan kesehatan yang umum dialami oleh mahasiswa yang tinggal di kosan atau asrama, serta mengidentifikasi solusi yang realistis dan aplikatif untuk meningkatkan kualitas hidup mereka selama menjalani kehidupan perkuliahan.
Tantangan Kesehatan di Kos/Asrama
Pola makan yang tidak sehat dan minimnya pengetahuan akan gizi mahasiswa cenderung memilih makanan yang murah dan mengenyangkan yang kadar gizinya belum diketahui. Kebiasaan mengonsumsi makan cepat saji dan junk food, makan tidak teratur kurang konsumsi buah dan sayur dan ketergantungan akan mie instan. Pola makan yang sehat sangat penting untuk menjaga Kesehatan fisik dan mental, serta mendukung prestasi akademik mahasiswa.
Kurangnya aktivitas fisik, aktivitas fisik adalah segala bentuk gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang mengeluarkan energi. Kurangnya aktivitas fisik telah diidentifikasi sebagai penyebab kematian keempat secara global (6% dari kematian global). Kebiasaan mager (males gerak) yang menjangkiti kehidupan mahasiswa yang memilih rebahan dan scroll media sosial sampai tengah malam bahkan sampai pagi.
Kebersihan lingkungan yang kurang terjaga memiliki dampak negatif yang luas, mulai dari penyebaran penyakit hingga kerusakan lingkungan yang lebih parah. Lingkungan yang kotor dapat menjadi tempat berkembang biak bakteri dan virus penyebab penyakit seperti diare, demam berdarah, dan penyakit kulit. Selain itu, lingkungan yang kotor juga dapat menurunkan kualitas hidup, menyebabkan stres, dan mengurangi kenyamanan.
Kesehatan mental dan tekanan akademik mahasiswa merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Tekanan akademik yang berlebihan dapat memicu masalah kesehatan mental, seperti stres, kecemasan, depresi, dan burnout. Sebaliknya, kesehatan mental yang buruk dapat menghambat prestasi akademik dan kesejahteraan mahasiswa secara keseluruhan.
Akses layanan kesehatan yang terbatas bagi mahasiswa dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti biaya, lokasi fasilitas kesehatan, kurangnya informasi, dan kurangnya kesadaran akan pentingnya kesehatan. Mahasiswa seringkali menghadapi tantangan dalam mengakses layanan kesehatan yang memadai karena keterbatasan finansial, jarak tempuh ke fasilitas kesehatan, kurangnya informasi tentang layanan yang tersedia, dan kurangnya pemahaman tentang pentingnya menjaga kesehatan.
Solusi dan Upaya Pencegahan
Berikut hal hal yang mesti mahasiswa dan pihak kampus maupun pengelola asrama perhatikan
- Edukasi gizi dan kesehatan mental
- Membuat jadwal makan dan olahraga sederhana
- Menjaga kebersihan kamar dan fasilitas bersama
- Penerapan manajemen stres dan waktu
- Membangun komunitas pendukung sesama penghuni
Mahasiswa yang tinggal di kosan atau asrama menghadapi berbagai tantangan kesehatan, baik secara fisik maupun mental. Hidup jauh dari keluarga seringkali membuat mereka harus mandiri dalam mengatur pola makan, kebersihan lingkungan, dan gaya hidup sehari-hari. Sayangnya, banyak mahasiswa yang cenderung mengabaikan aspek-aspek penting tersebut karena kesibukan akademik, keterbatasan dana, kurangnya pengetahuan, atau pengaruh lingkungan sekitar.
Masalah kesehatan yang umum dijumpai meliputi pola makan yang tidak teratur atau tidak bergizi, kurangnya olahraga, lingkungan tempat tinggal yang kurang bersih, gangguan tidur, stres akademik, hingga gejala kecemasan dan depresi. Hal ini diperparah oleh akses layanan kesehatan yang terbatas dan minimnya dukungan psikososial dari lingkungan sekitar.
Faktor-faktor penyebab kondisi ini beragam, mulai dari manajemen waktu yang buruk, tekanan sosial, kebiasaan buruk teman sebaya, hingga ketidaktahuan mahasiswa tentang pentingnya menjaga kesehatan secara menyeluruh. Dampaknya bisa sangat serius, tidak hanya menurunkan kualitas hidup, tetapi juga memengaruhi konsentrasi belajar, produktivitas, hingga prestasi akademik.
Sebagai solusi, mahasiswa perlu meningkatkan kesadaran diri untuk menerapkan pola hidup sehat. Ini mencakup konsumsi makanan bergizi, menjaga kebersihan kos/asrama, olahraga ringan secara rutin, dan menerapkan manajemen stres. Kampus juga berperan penting melalui penyediaan fasilitas kesehatan, program penyuluhan, serta layanan konseling mental yang mudah diakses.
Dengan dukungan dari individu, komunitas, dan institusi, lingkungan kos atau asrama dapat menjadi tempat tinggal yang sehat dan produktif bagi mahasiswa. Kesadaran akan pentingnya kesehatan bukan hanya bermanfaat untuk masa studi, tetapi juga menjadi bekal berharga bagi kehidupan setelah lulus.
Penulis: M Ihsan /Santri Pesmadai




