Tolak Bala dengan Sedekah

Tolak Bala dengan Sedekah

Dunia kini tercengang, musibah terjadi di Amerika Serikat berupa banjir bandang yang disebabkan oleh badai Ida.

Musibah itu menghantam empat negara bagian di Timur Laut Amerika Serikat dan menelan korban jiwa 44 orang.

Badai Ida merupakan hujan lebat, kekuatan dari hujan itu mampu menyapu mobil-mobil di jalanan, menenggelamkan jalur kereta bawah tanah di New York City dan menghentikan sementara penerbangan.

Dalam Islam, kejadian semacam itu disebut musibah, yakni satu keadaan yang jiwa manusia tidak menyukainya.

Kondisi demikian disebut juga dengan bala yang berasal dari bahasa Arab, yakni bala’ yang artinya ujian.

Ibn Mandzur dalam Lisan Al-Arab menerangkan bahwa bila ujiannya berbentuk kebaikan maka dinamakan ibla’, bila ujiannya berbentuk keburukan maka dinamakan bala (bala’).

Apa yang terjadi di Amerika Serikat jika menimpa insan beriman maka itu adalah bala.

Dan, kita berharap agar Indonesia Allah jauhkan dari bala. Pertanyaannya dengan apa kita memohon kepada Allah agar dijauhkan dari bala, jawabannya tegas dan jelas, yakni sedekah.

”Bersegeralah kalian untuk mengeluarkan sedekah, karena sungguh bencana tak dapat melewati sedekah“ (HR Thabrani).

“Sesungguhnya sedekah benar-benar memadamkan kemurkaan Allah dan menghindarkan dari kematian yang buruk.” (HR. Tirmidzi).

Oleh karena itu, mari perkuat sedekah, ajak keluarga, sanak saudara dan teman serta rekan dan kolega untuk memperbanyak sedekah. Semoga langkah ini Allah ijabah, sehingga bangsa Indonesia Allah selamatkan dari segala macam bala. Aamiin.*/Imam Nawawi

Sedekah Kendalikan Ego Hadirkan Maslahat

Sedekah Kendalikan Ego Hadirkan Maslahat

Tidak bisa dipungkiri, sedekah secara empiris mengurangi apa yang dimiliki oleh seseorang karena diberikan kepada orang lain.

Misalnya Amin punya uang Rp100.000. kemudian ia menginfakkannya atau mensedekahkan sebesar Rp 50.000. maka Amin akan memiliki uang sebanyak Rp. 50.000.

Dalam pandangan ego manusia, jelas sedekah tidak memberi keuntungan. Hal ini karena ego menurut Muhammad Iqbal selain tidak sempurna juga hanya mengetahui sisi yang diinginkannya saja.

Oleh karena itu ego hanya bisa menuntut tentang pemuasan yang bersifat pribadi semata. Umumnya orang memahami ego sebagai upaya mementingkan diri sendiri.

Sedangkan sedekah adalah sebuah perbuatan yang tidaklah dilakukan kecuali atas dorongan iman yang kuat. Di mana pada tahap kesadaran itu seseorang menyadari bahwa hidup harus bermanfaat bagi sesama.

Artinya orang yang mampu bersedekah adalah orang yang telah bisa melihat bahwa kebahagiaan dalam hidup ini bukan sebatas pemuasan ego. Bahkan kebahagiaan yang sejati hanya bisa diraih ketika ego ditundukkan pada kehendak menegakkan iman di dalam kehidupan.

Dalam ruang kehidupan sosial pun hal ini sangat dikenal. Biasanya ada ungkapan kita harus bisa mendahulukan kepentingan bersama daripada kepentingan pribadi dan golongan.

Hal ini menunjukkan bahwa sejatinya sedekah sangatlah sesuai dengan fitrah manusia. Di mana dengan sedekah manusia tidak sekedar bisa mengendalikan ego tetapi juga dapat meraih kebahagiaan yang sejati. Di saat yang sama juga mampu membahagiakan sesama.

Oleh karena itu perintah bersedekah di dalam Islam senantiasa ditekankan. Bahkan perintah ini tetap di anjurkan baik manusia dalam keadaan ekonomi lapang maupun sempit.

Dan, tentu saja pada setiap amalan sedekah akan disusul oleh balasan berupa berkah baik di dunia maupun di akhirat.

Bahkan dalam banyak fakta kehidupan insan beriman, seringkali solusi dari setiap permasalahan yang sulit dipecahkan hadir seakan tiba-tiba karena amalan sedekah.

Ini berarti bahwa sedekah bukan sekedar amalan yang mendatangkan kebaikan dan pahala serta berkah tetapi juga jalan keluar dari setiap permasalahan rumit yang dihadapi oleh seseorang. Maka sangatlah beruntung orang yang dalam hidupnya gemar mengamalkan sedekah.

Begitu pentingnya sedekah, amalan ini amat dianjurkan dilakukan setiap hari.

Rasulullah bersabda bahwa, “Ketika hamba berada di setiap pagi, ada dua malaikat yang turun dan berdoa, “Ya Allah berikanlah ganti pada yang gemar berinfak (rajin memberi nafkah pada keluarga).” Malaikat yang lain berdoa, “Ya Allah, berikanlah kebangkrutan bagi yang enggan bersedekah (memberi nafkah).” (HR. Bukhari).*/Imam Nawawi

Kecintaan Nabi kepada Penuntut Ilmu

Kecintaan Nabi kepada Penuntut Ilmu

Diantara kebaikan yang begitu utama yang penting dipahami dan disadari oleh kaum muslimin adalah menuntut ilmu.

Namun seperti kita ketahui bersama tidaklah semua orang yang bisa menuntut ilmu layaknya para penuntut ilmu di zaman ini, seperti siswa ataupun mahasiswa.

Meski demikian Islam memberikan satu tuntunan bagaimana kita bisa meraih kebaikan yang berlipat ganda pahalanya yakni dengan mencintai, peduli dan menyayangi para penuntut ilmu.

Teladan Historis

Suatu waktu abu Hurairah merasakan lapar yang begitu melilit perutnya.

Karena tak tahan iapun menyandarkan kan perutnya itu diatas tanah kemudian ia mengikatnya dengan batu.

Tak lama kemudian abu Hurairah radhiallahu anhu melihat Abu Bakar melintas.

Abu Hurairah mendekat dan bertanya tentang satu ayat Alquran. Namun sebenarnya ia ingin kondisi lapar yang dialaminya diketahui oleh Abu Bakar.

Namun takdir menjadikan Abu Bakar tidak mengerti apa yang dialami oleh Abu Hurairah sehingga ia melintas begitu saja.

Demikian juga ketika Umar bin Khattab melintas, Abu Hurairah berusaha mendekat namun kembali itu tidak disadari oleh Umar bin Khattab, sehingga tidak ada obat bagi rasa lapar yang dialami oleh Abu Hurairah.

Sampai akhirnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam lalu lintas, kemudian tersenyum karena mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan oleh Abu Hurairah.

Manusia agung itu pun mengajak Abu Hurairah ke dalam rumahnya. Setiba di rumah Rasulullah mendapati susu.

Setelah dicek bahwa susu itu adalah pemberian dari Fulan atau fulanah untuk Rasulullah, Abu Hurairah diperintahkan untuk datang ke masjid memanggil seluruh penuntut ilmu yang ada di ahlus-suffah.

Abu Hurairah pun menjalankan perintah itu dan menuju kembali ke rumah Rasulullah dengan satu keraguan akankah dirinya dapat minum susu itu mengingat menuntut ilmu dari ahlus-suffah tidak sedikit jumlahnya.

Ajaib susu itu bisa diminum oleh seluruh ahlus suffah bahkan Abu Hurairah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam meminum susu itu berkali-kali hingga ia merasa sangat kenyang. Setelah itu barulah Rasulullah meminum sisa susu itu.

Dari peristiwa itu kita bisa ambil pelajaran bahwa betapa cintanya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepada para penuntut ilmu.

Dan sudah semestinya kita sebagai kaum muslimin, umat nabi Muhammad, berupaya untuk juga mencintai penuntut ilmu.

Bisa dengan memberikan donasi untuk kebutuhan pangannya, kebutuhan belajarnya, atau bahkan beasiswa dan sarana belajar agar mereka lebih bersemangat dan dapat lulus dengan baik dari pembelajaran yang ditekuninya.

Sungguh amat mulia orang yang dalam hatinya ada kecintaan dan kepedulian mendorong generasi muda untuk sukses di dalam menuntut ilmu.

Semoga Allah subhanahu wa Ta’Ala anugrahkan kepada kita cinta yang demikian sebagaimana Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah teladan kepada kita semuanya.*/Imam Nawawi

Family Gathering Santri Pesmadai untuk Pembekalan Penugasan Dakwah

Family Gathering Santri Pesmadai untuk Pembekalan Penugasan Dakwah

Guna meningkatkan kapasitas dan idealisme mahasiswa di dalam kiprah kebaikan di tengah umat, Pesmadai gelar family gathering dengan agenda utama pembekalan, sharing dan diskusi tentang etos perjuangan.

“Agenda ini dilatarbelakangi oleh satu harapan besar para mahasantri yang ada di Pesmadai dapat benar-benar memiliki komitmen tinggi untuk betul-betul mengabdi di tengah umat dengan mendedikasikan ilmu dan keterampilan yang mereka miliki untuk mendukung gerakan mencerdaskan bangsa melalui pendidikan, dakwah dan sosial,” terang direktur Pesmadai Ahmad Muzakki di Bumi Gumati, Sukaraja, Bogor, Jawa Barat(21/8).

Hadir sebagai narasumber para senior yang juga ahli di bidang dakwah dan pendidikan dari unsur DPP Hidayatullah. Selain itu juga hadir anggota pembina pesmadai, Imam Nawawi.

Dalam uraiannya Imam Nawawi juga penulis produktif di situs masimamnawawi.com menyatakan bahwa perjuangan membangun kebaikan adalah kesempatan yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya yang diberikan petunjuk.

“Hadir sebagai sarjana dengan niat dan dedikasi mewakafkan diri dalam perjuangan keumatan merupakan medium terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan sekaligus kenikmatan hidup yang sepenuhnya dan seutuhnya berharap dan bergantung hanya kepada Allah,” paparnya.

“Menjadi mahasiswa cerdas itu mudah. Tetapi menjadi manusia yang cerdas di mana kebermanfaatan bisa dipancarkan dari kiprah seseorang itu adalah capaian yang tidak semua orang bisa mewujudkan nya. Sejauh tekad kita adalah menghadirkan kebaikan kepada sesama maka Allah akan berikan jalan-jalan untuk kita menjadi manusia yang cerdas,” imbuhnya.

Dan dalam rangka mencapai itu semua penulis buku Mindset Surga itu mendorong para mahasiswa agar terus memberikan nutrisi bagi jiwa dengan menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya.

“Cerdaskan pikiran kita dengan kekuatan batin yang nutrisinya kita peroleh dari ibadah. mulai dari Tahajud, tadarus Quran, dzikir, sedekah dan amal sholeh,” tegasnya.

Pembekalan ini berlangsung sehari penuh dan pada hari Ahad dijadwalkan kegiatan lapangan untuk memupuk kebersamaan dan keakraban antara santri, pengurus, dan pembina Pesmadai.*/Ibn Suradi

Santri Pesmadai Raih Gelar Sarjana dan Wisudawan Terbaik UIN Jakarta

Santri Pesmadai Raih Gelar Sarjana dan Wisudawan Terbaik UIN Jakarta

Usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Begitulah adagium populer yang acapkai mampir di telinga. Pepatah ini agaknya tepat menggambarkan pencapaian yang berhasil diraih salah satu putri Indonesia ini. 

Namanya Siti Maulidya Chairunnisa. Hari ini, Lidya, begitu ia biasa disapa, resmi menyandang gelar sarjana S.Sos. Momen ini juga terbilang amat istimewa sebab dia berhasil mendapat predikat sebagai salah satu wisudawan terbaik . 

Ia dikukuhkan pada Sidang Senat Terbuka Wisuda Sarjana ke-120 Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta yang digelar secara online, Sabtu (5/6/2021).

Berhasil meraih anugerah sebagai wisudawan terbaik pada Fakultas Dakwah dan Komunikasi dari perguruan tinggi ternama Tanah Air, wanita kelahiran Bekasi inipun mengaku sangat senang dan bersyukur. 

“Kalimat pertama yang pantas terucap adalah Alhamdulillaahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat,” kata perempuan berhijab ini. 

Lidya mengatakan, pencapaiannya ini bukan karena usahanya semata melainkan ada campur tangan pertolongan dan bantuan dari Allah yang telah memudahkan dapat sampai di titik akhir menyelesaikan studi sarjana dan lulus tepat waktu.

“Wisuda buat saya adalah waktu untuk merapikan mimpi, setelah melewati perjuangan yang luar biasa hebatnya. Wisuda juga merupakan waktu untuk melihat peluang lebih luas serta menjadi awal gerbang kehidupan baru akan segera dimulai,” katanya. 

Lidya yang juga santriwati Pesmadai Putri angkatan pertama ini berharap, ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh dapat bermanfaat khususnya untuk diri dan umumnya untuk keluarga, agama, bangsa, negara, dan umat. 

“Saya juga berharap dapat berperan dan berkontribusi dengan mengamalkan ilmu yang telah saya pelajari, utamanya dari pengalaman belajar di Pesmadai.yang telah lama menjadi impian saya untuk bisa berhimpun dengan orang-orang hebat, memiliki visi dakwah di tengah-tengah umat, sehingga tidak menjadi orang yang cerdas namun abai terhadap lingkungan dan keadaan sesama. Terlebih kultur ibadah benar-benar ditekankan selama di Pesmadai ini,” imbuhnya. 

Selain sibuk dengan rutinitas di ruang kuliah, Lidya juga sosok organisatoris yang banyak terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan. Diantaranya ia pernah memimpin UKM LDK Syahid Komisariat Dakwah Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Jakarta.

Lidya yang mengambil jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI) ini juga aktif dalam pengembangan literasi dengan bergabung menjadi anggota dan dan pengurus Forum Lingkar Pena (FLP) Ciputat. 

Diantara buah karya literasinya adalah saat menyoroti masalah stunting di Tanah Air dengan menulis makalah ilmiah berjudul “Digitalisasi Penanggulangan Stunting Sejak Dini” yang kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku rampai berjudul “Representasi Materi Komunikasi Penyuluhan di Era Revolusi Industri 4.0” bersama sejumlah penulis lainnya. 

Dengan seabreg kenangan di salah satu lembaga pendidikan tinggi Islam tertua di Indonesia ini, maka, wajar Lidya mengaku tak bisa melupakan berbagai memori pada almamaternya tersebut. 
Ia pun menceritakan kembali awal pertama menjalani proses perkuliahan di Kampus Biru itu. Sejak awal, ia sudah langsung klop dengan mata kuliah yang baginya menarik dan sesuai dengan minatnya. 

Lidya juga tak dapat melupakan peran dosen pengajar dengan berbagai macam karakter menjadi keunikan tersendiri dalam menjalani aktivitas perkuliahan. “Itu adalah tantangan mahasiwa untuk memahami materi dengan cara yang berbeda-beda,” katanya.

Memasuki tahun ke-2, perjalanan studi Lidya makin banyak dengan segala aktivitas di lapangan. Hal itu membuatnya semakin lebih semangat untuk segera menyelesaikan dan mengambil peran. 
“Meskipun di semester akhir menjalani perkuliahan daring, tapi itu semua tidak mengurangi ghirah saya untuk terus menyelami hikmah yang akan Allah kasih untuk kita semua,” ungkapnya.*/Aimam

Asah Kepedulian Sosial dengan Bagi Ta’jil On The Road

Asah Kepedulian Sosial dengan Bagi Ta’jil On The Road

Ramadhan adalah bulan kemuliaan, bulan kemenangan dan tentu saja bulan kepedulian.

Memanivestasikan spirit tersebut Pesmadai pun turun melakukan aksi berbagi buka puasa on the road (21/4).

“Dengan semangat hastag #SantriMengabdi Pesmadai tidak mau ketinggalan kebaikan di bulan suci. Oleh karena itu digelarlah kegiatan berbagi buka puasa on the road yang dilaksanakan di Jalan Raya Lintas Ciputat-Parung tidak jauh dari Kampus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tepat berada di depan Pesmadai Ciputat,” terang Direktur Pesmadai, Ustadz Ahmad Muzakki.

Pada kesempatan tersebut berhasil dibagikan 150 paket ta’jil dan buka puasa.

“Masyarakat yang melewati titik pembagian ta’jil sangat antusias. Mulai dari pengendara ojol, pemulung, pedagang kaki lima, supir angkot, taksi, dan bahkan Transjakarta pun ada yang berhenti sebentar untuk menerima ta’jil. Semuanya tak luput berterimakasih kepada kami sebagai bentuk syukur”, tutur Ikmal Nurkholis, tim lapangan.

Tidak mau ketinggalan santriwati Pesmadai pun turut turun dalam aksi kebaikan ini.

“Saya tertarik untuk turun ke jalan karena ingin berbagi dan menebar kebaikan kepada sesama saudara kita semua. Apalagi ini Ramadhan,” kata Dinda Ajeng Dwi Pratiwi.

“Alhamdulillah kegiatannya lancar, senang bisa melihat orang lain bahagia dan saya juga ikut bahagia,” imbuhnya.

Sekretaris Pesmadai, Fatih Husaini menyatakan bahwa tujuan dari kegiatan bagi-bagi ta’jil juga untuk menumbuhkan kecintaan pada bulan suci Ramadhan.

“Mengisi Ramadhan dengan kegiatan yang bermanfaat, tidak hanya untuk santri, tetapi juga masyarakat luas. Ramadhan harus kita jadikan momentum untuk meningkatkan kepekaan dan kepedulian sosial kepada umat,” jelas Fatih.*/NI