Mengenang Yusuf Al-Qardhawi di Perpustakaan Asrama

Sebelum ke Ciputat, boleh dibilang, “madzhab” saya adalah madzhab Yusuf Al-Qardhawi. Sebelum kuliah, ketika belajar di MAN-MAPK Padang Panjang, buku-buku karangannya adalah yang paling banyak saya baca, selain karangan Buya Hamka.

MAN-MAPK Koto Baru Padang Panjang, sekolah saya, adalah sebuah lembaga pendidikan khusus keagamaan yang diinisiasi oleh Menteri Agama Munawir Syadzali pada tahun 1987. Awalnya dibuka di lima lokasi: Padang Panjang, Ciamis, Yogyakarta, Ujung Pandang, dan Jember. Spirit yang dibawa adalah untuk mencetak ulama yang intelek dan intelektual yang ulama. Sekolah dengan sistem pesantren, berasrama.

Di asrama putra sekolah kami, ada satu perpustakaan. Kebetulan, dalam struktur kepengurusan Ikatan Santri Asrama (IKAS), saya berada di sebuah divisi yang salah satu jobdesk-nya adalah ngurusin perpustakaan.

Divisi kami  punya jadwal piket-seingat saya-dua hari dalam seminggu untuk menjadi petugas perpustakaan. Jadwal piket saya, bukan di hari ramai pengunjung, biasanya hanya ada satu atau dua orang pengunjung bahkan kadang tidak ada sama sekali. Acapkali hanya saya sendiri di perpustakaan satu petak berukuran kamar 4×5 meter tersebut.

Kesendirian di perpustakaan, saya manfaatkan untuk membersihkan (read: menggeledah) semua buku-buku yang ada. Saya begitu penasaran, buku apa saja yang ada, semua judul di cover buku di perpustakaan pernah saya baca sambil menerawang apa pembahasan di dalamnya. Buku yang menurut saya bagus, saya kumpulkan lalu secara bertahap dan diam-diam saya bawa ke kamar.

Menjadi petugas perpustakaan asrama memiliki privilege tersendiri. Saya bisa dengan “nakal”, membawa buku keluar perpustakaan tanpa perlu dicatat di buku peminjaman. Bahkan bisa meminjam buku tanpa batas waktu, karena tidak tercatat.

Buku yang telah dibawa ke kamar, diobservasi. Minimal dengan membaca daftar isi, testimoni di cover, dan pendahuluan. Buku yang menurut saya benar-benar bagus, saya photocopy di Toko PC Al-Faruq di seberang sekolah, full satu buku.

Saat proses penggeledahan perpustakaan asrama putra MAN-MAPK Koto Baru Padang Panjang inilah, untuk pertama kalinya saya “bertemu” dengan Yusuf Al-Qardhawi, ulama yang lahir di desa kecil Shafth Turaab, Mesir pada 9 September 1926 ini, melalui buku-bukunya yang banyak tersedia.

Salah satu karangannya yang pertama dibaca berjudul Fiqh Daulah, menjadi satu buku kesukaan saya waktu di MAPK. Buku ini saya baca berulang-ulang. Seringkali saya mengutip pandangannya di buku ini, semisal pembahasan Islam dan negara, Islam dan demokrasi, di forum diskusi dengan teman-teman di Padang Panjang.

Buku Fiqh Daulah menjadi pintu pertama saya mengenal dan tertarik dengan Yusuf Al-Qardhawi. Profilnya yang pada usia 10 tahun sudah hafal Al-Qur’an, doktor jebolan Al-Azhar serta Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS) menambah kekaguman untuk kemudian terus membaca buku-bukunya yang lain.

Ulama besar yang dijuluki mujtahid modern ini pandangannya sangat luas, tajam dan berani yang kemudian merangsang selera saya dalam membacanya lebih lanjut. Pandangan Yusuf Al-Qardhawi sangat mewarnai pemikiran saya kala itu. Bahkan sampai ke Ciputat.

Menjelang akhir semester pertama kuliah di Ciputat, Pak Lebba, begitu kami biasa memanggil dosen berdarah Bugis tersebut, memberi tugas membuat makalah ilmiah. Kami diberikan kebebasan untuk memilih dan menentukan judulnya.

Makalah yang saya tulis adalah tentang hukum berjabat tangan lawan jenis dalam pandangan Yusuf Al-Qardhawi. Yusuf Al-Qardhawi mempunyai pandangan yang sangat menarik terkait hal ini. Ia uraikan dengan sangat panjang lebar dalam kitab kumpulan fatwanya. Inilah karya ilmiah yang pertama kali saya buat sendiri di bumi Ciputat yang mulia.

Setelah di Ciputat, saya tau bahwa nama Yusuf Al-Qardhawi kurang begitu “mengudara”. Bisa jadi karena beliau ulama terkemuka Ikhwanul Muslimin dan beberapa fatwanya yang kontroversial. Ikhwanul Muslimin memang kurang keren bagi mostly jamaah Ciputat. Tanah Ciputat yang semoga Allah muliakan ini, mengenalkan banyak ulama besar lainnya kepada saya. Namun, saya tetap dan masih membaca karya-karya Yusuf Al-Qardhawi.

Karena itulah, boleh dibilang, saya pernah “bermadzhab” Yusuf Al-Qardhawi, untuk menunjukkan betapa saya menyukai dan mengamini banyak fatwa dan pandangan-pandangan keislamannya.

Selamat jalan Syekh Yusuf Al-Qardhawi. Sedih, ditinggalkan idola-idola pemikiran Islam, setelah sebelumnya Prof. Azyumardi Azra dan Buya Syafii Maarif. Hari ini, 26 September 2022, di tengah kesedihan atas kepergian, saya mengenang, saat pertama kali berjumpa di perpustakaan asrama.

Renungan Kematian Bagi Pemuda

Buku dengan judul “Kesaksian seorang Dokter- Mensucikan Hati melalui Kisah-kisah Nyata” yang dikarang oleh dr. Khalid bin Abdul Azis Al-Jubair, SpJP seorang Dokter spesialis bedah dan jantung sangat menarik untuk dibaca dan diambil hikmahnya.

Buku ini merupakan kumpulan kisah nyata sang Dokter dari pengalaman pribadinya selama bertugas, ada kutipan cerita yang sangat menarik mengenai sebuah kisah singkat sakaratul mautnya seorang pasien, kira-kira begini kutipan kisahnya:

Saat itu saya berada di sisi seseorang yang sedang berjuang menghadapi sakaratul maut. Anaknya berusaha sebisa mungkin untuk mentalqininya dengan dua kalimat syahadat, akan tetapi setelah berusaha dengan susah payah, jawaban ayahnya sungguh sangat mencengangkan, “wahai anakku ! aku mengerti apa yang engkau katakana, akan tetapi lidahku tidak bisa mengucapkannya, aku telah berusaha wahai anakku, aku telah berusaha akan tetapi aku tidak bisa.”

Sahabat sekalian, membaca kisah orang yang telah menemui sakaratul maut atau bisa dibahasakan dengan batas waktu individu-nya, membuat diri kita seolah langsung mendapatkan pantulan lalu memikirkan bagaimana diri kita kelak. Kita tidak tau kapan dan dimana batas waktu individu itu datang, hati yang memiliki submission kepada Tuhan pun tidak akan bertanya kenapa dan bagaimana batas waktu individu itu nanti.

Kita hanya mengharapkan ketika batas waktu itu datang, kita sudah siap menyambutnya dan pergi dengan ketenangan total kepada Tuhan. Karena logic-nya, Tuhan pasti tidak ingin kita kembali kepada-Nya dalam keadaan tidak siap. Tapi apakah Tuhan menunggu kita siap baru Dia memanggil kita? Tidak. Tuhan memberikan kita batas waktu untuk mempersiapkan diri.

Tidak ada yang tau bagaimana keadaan dirinya ketika berada di akhir batas waktu individu, tapi titik yang menjadi batas waktu individu antara meninggalkan alam nyata menuju alam ghaib merupakan cerminan bagaimana ia sebelumnya di masa lalu (dunia) dan bagaimana ia di masa depan (akhirat).

Merasakan ketenangan di titik batas waktu adalah dambaan orang-orang yang beriman. Bisa tenang meninggalkan dunia dengan segala tipu dayanya dan tenang menyambut alam baru adalah asa jiwa-jiwa yang total submission kepada Tuhan.

Anak muda terlalu kepedean ketika selalu mengidentikkan titik batas waktu itu dengan kaum tua, bagai menganggap hoax berbagai berita kematian di social media yang dialami oleh anak-anak muda. Sombong sekali jika harus menunggu berkepala empat baru mempersiapkan untuk menghadapi titik batas itu. Meletakkan pembahasan kematian hanya kepada kaum tua adalah kekeliruan.

Memposisikan tema-tema semangat, perjuangan dan cinta kepada kaum muda tidaklah salah, dengan tema-tema seperti itu maka kaum muda butuh sesuatu yang bisa menjadi penyeimbang spiritual agar tidak nelangsa berada di lingkaran harapan dengan tema-tema tadi ketika mereka tidak mampu mencapainya. Tidak mudah setiap anak muda bisa sukses dalam semua tema tadi, semangat, perjuangan dan cinta.

Memang tidak mengasyikkan ketika membicarakan kematian di tengah-tengah anak muda, tetapi yang diinginkan itu adalah adanya reminder secara individu di dalam diri setiap manusia tanpa membedakan usia. Membicarakan anak muda dengan kematian kadang menuai protes, karena dianggap pesimistis, dan melemahkan perjuangan.

Padahal kematian bisa menjadi reminder bahwa kita memiliki batas dan memang terbatas. Di saat optimisme jiwa muda, di tengah semaraknya perjuangan, dengan mengingat adanya titik batas justru bisa menghasilkan energi yang lebih besar. Silahkan logikakan dengan istilah the power of kepepet.

Anugerah Education Pesantren Award 2022, Pesmadai Kembali Raih Penghargaan

Jum’at, 5 Agustus 2022, Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) kembali menerima penghargaan nasional dari Majalah Penghargaan Indonesia sebagai Best of the Best Education Pesantren Award 2022 di Hotel Mercure Gatot Subroto, Jakarta.

Majalah Penghargaan Indonesia menyatakan bahwa Pesmadai memiliki performa terbaik yang turut memberikan kontribusi terhadap pembangunan roda perekonomian nasional.

Penghargaan ini diterima langsung oleh Direktur Pendidikan Pesmadai, Rasfiuddin Sabaruddin, S. Sy, MIRK. Hal ini tentunya merupakan kepercayaan berbagai pihak yang telah mendukung dan bekerja sama dengan Pesmadai.

Achievement ini tentunya menjadi kabar bahagia dan kado bagi Pesmadai di awal tahun baru Islam 1444 H. Keluarga besar Pesmadai pastinya sangat bersyukur dan menjadi lebih bersemangat lagi dalam berkarya untuk bangsa mencetak generasi unggul anak-anak muda.

Terima kasih yang mendalam kepada semua kalangan yang telah mensupport Pesmadai selama ini. Terutama para pengurus dan mahasantri Pesmadai di setiap cabangnya di Indonesia.

Amanah umat, semoga kami bisa terus berkiprah menghadirkan program-program keummatan yang bisa dirasakan oleh banyak orang dan menjadi wadah bagi kaum muslimin meraih berkah dan ridho Allah.

Pesmadai: Pelopor Terbaik Pesantren Mahasiswa di Indonesia

Bulan lalu, di penghujung tahun hijriah, Pesmadai menerima penghargaan dengan dua kategori sekaligus. Salah satunya yaitu kategori “The Best Pelopor Pesantren Mahasiswa Amanah, Terpercaya dan Profesional Award Winner 2022”.

Hal tersebut tentunya membawa gelora semangat baru bagi Pesmadai, terlebih di awal tahun baru Islam, 1444 H ini. Penghargaan tersebut sekaligus merupakan amanah kepada Pesmadai untuk benar-benar memelopori pesantren mahasiswa.

Ketika dinobatkan pada Jum’at, 15 Juli 2022 lalu oleh Indonesia Achievement Magazine, amanah penghargaan ini juga menjadi refleksi bersama bahwa pesantren mahasiswa menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi anak-anak muda Indonesia.

Pesmadai menjadi rumah yang membantu kampus untuk memfasilitasi mahasiswa menjadi SDM yang unggul. Di pesantren mahasiswa, sistemnya memadukan dan mengharmonisasikan pendidikan di Perguruan Tinggi tempat mahasiswa kuliah dengan pendidikan pesantren yang juga tersistemasi dengan baik.

Oleh karena itulah, kehadiran Pesmadai dalam memelopori pesantren mahasiswa menjadi kian penting dan memerlukan dukungan bersama. Sekarang sudah ratusan mahasiswa menerima manfaat dari Pesmadai.

Ada jutaan mahasiswa lainnya di Indonesia yang juga membutuhkan rumah sebagai “kampus” tambahan dan support system-nya untuk berproses menjadi generasi yang unggul, sehingga pembangunan peradaban Indonesia semakin terakselerasi.

Pesmadai Raih Penghargaan Indonesia Golden Award 2022

Jum’at, 15 Juli 2022, Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) menerima penghargaan nasional dari Indonesia Achievement Magazine dalam ajang Indonesia Golden Award 2022.

Tidak tanggung-tanggung, Pesmadai berhasil meraih dua kategori sekaligus dalam penganugerahan yang digelar di Kota Makassar, Sulawesi Selatan tersebut.

Pesmadai memenangkan kategori “The Best Pelopor Pesantren Mahasiswa Amanah, Terpercaya dan Profesional Award Winner 2022” dan kategori “Top Quality Innovation Pesantren Amanah dan Terpercaya Award Winner 2022”.

Achievement ini tentunya menjadi kabar bahagia dan kado bagi Pesmadai di pertengahan tahun 2022. Direktur Pesmadai, Ahmad Muzakki, yang mewakili menerima penghargaan tersebut menyatakan sangat bersyukur dan bersemangat.

2 Apresiasi yang diberikan kepada Pesmadai ini juga sebagai bukti kesungguhan Pesmadai dalam melayani umat dan membina anak anak muda, mahasiswa. Hal ini juga sebagai penguatan kepada kaum muslimin-muslimat serta para donatur untuk tidak ragu dalam bermitra dan membersamai Pesmadai dalam mencetak generasi-generasi cerdas, hebat dan berintegritas yang kelak mereka akan mengisi ruang-ruang kosong di berbagai bidang dan sektor yang ada.

“Alhamdulillah atas karunia Allah dan do’a serta kepercayaan masyarakat Indonesia, Pesmadai meraih dua penghargaan sekaligus. Pesmadai akan terus berupaya memberikan yang terbaik. Semoga kehadiran kami bisa berdampak positif dan semakin luas di Indonesia, ikut berkontribusi dalam pembangunan Indonesia”, tuturnya.

Ia juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua kalangan yang telah mensupport Pesmadai selama ini. Terutama para pengurus dan mahasantri Pesmadai di setiap cabangnya di Indonesia.

Pesmadai Salurkan 10 Hewan Kurban, Amanah Kaum Muslimin

Ciputat, Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) menggelar penyembelihan hewan kurban pada Minggu (10/7) di Asrama Mahasantri Ciputat. Acara ini berjalan dengan lancar dan sukses.

Sebanyak 10 hewan qurban berupa 3 ekor sapi dan 7 ekor kambing disembelih pada 10 Zulhijah 1443 H di Asrama Pesmadai Ciputat. Sapi dan kambing ini merupakan amanah kaum muslimin juga Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

“Sangat excited sekali dengan penyembelihan hewan kurban di Pesmadai. Karena kami para santri langsung turun ikut menyembelih dan membagikan daging qurban kepada para penerima manfaat. Semoga di tahun berikutnya jumlah hewan qurban yang disembelih di pesmadai bisa lebih banyak lagi, agar bisa semakin banyak penerima manfaatnya,” ucap Qomaruddin salah satu santri Pesmadai asal Brebes.

Ketua panitia qurban Pesmadai tahun 2022 Fatih Husaini mengatakan “penyembelihan kurban tahun ini, sedikit berbeda dari tahun sebelumnya, Tahun kemarin kita dilanda virus covid-19, yang melihat penyembelihan kita batasi. Tetapi, tahun ini banyak warga yang antusias ingin melihat langsung proses penyembelihan kurban di Pesantren. Santri bahagia, warga juga ikut bahagia.”

Warga sekitar tempat tinggal Pesmadai juga merasakan kebahagiaan karena selama ini Pesmadai memberi dampak positif. “Semenjak ada Pesantren Pesmadai disini, kami sangat senang. Anak-anak bisa ngaji dan ngapal quran di pesmadai yang diajarkan oleh kakak-kakak pesmadai, setiap tahun ada Penyembelihan Qurban, ujar Bu Husnawati wali santri TPQ Pesmadai.

“ Menyembelih qurban adalah suatu sunah Rasul yang sarat dengan hikmah dan keutamaan. Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat” tutur Ustadz Ahmad Muzakky selaku Pimpinan Pesantren Pesmadai.

Siang jam 2 Panitia Qurban mendistribusikan amanah dari kaum muslimin/donatur yang mempercayakan qurbannya ke pesmadai. Penerima manfaat daging qurban tahun ini sebanyak 250 orang, mereka dari Anak-anak Yatim Piatu, Dhuafa, Janda, Jompo dan Para Santri Penghapal Quran.

Tak lupa ucapan terimakasih kepada para donatur dan kaum muslimin yang sudah turut mempercayakan dan mensupport pelaksanaan Qurban ini, sehingga bisa terlaksana dengan baik. Semoga menjadi pemberat timbangan kebaikan kelak di hari akhir.