Menutup Tahun 2020 Dengan Mengaji: KH. Amin Mahmud Hadir di Pesmadai

Date

Pesmadai agendakan kegiatan akhir tahun 2020 yang bermanfaat. Pada Rabu, 30 Desember 2020, digelar kembali kajian penutup tahun bersama KH. Amin Mahmud di asrama penghafal Al-Qur’an, Legoso Ciputat.

Hadir juga Direktur Utama Pesmadai, Ahmad Muzakki dalam kegiatan ini. Dalam sambutannya, Ustadz Muzakki mengatakan bahwa selain untuk kajian keilmuan, kehadiran tokoh-tokoh di Pesmadai juga diharapkan dapat menjadi motivasi dan tauladan bagi para santri dalam berjuang demi kemaslahatan umat.

Kiprah perjuangan KH. Amin Mahmud sudah tidak diragukan lagi. KH. Amin Mahmud, yang juga merupakan salah satu perintis berdirinya Hidayatullah, di usianya yang tidak lagi muda, tetapi semangatnya selalu muda dalam menyampaikan ilmu kepada santri-santri penghafal qur’an Pesmadai. “Hidup ini hanya sekali dan sebentar. Hidup ini rahasia Allah, tidak tahu kapan meninggal. Makanya harus dimanfaatkan dengan baik. Tidak boleh sembrono”, ungkapnya di pagi Rabu itu.

Wejangan penuh ilmu disimak dengan khusu’ dan antusias oleh para santri. Beliau mengatakan, Syukurnya kita hidup di dunia ini punya Al-Qur’an. Petunjuk langsung dari Allah. Dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menjelaskan tentang banyak orang yang menyesal nantinya karena tidak memanfaatkan hidup ini dengan baik. Beliau mengutip QS. An-Naba: 40 yang berbunyi:

إِنَّا أَنْذَرْنَاكُمْ عَذَابًا قَرِيبًا يَوْمَ يَنْظُرُ الْمَرْءُ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ وَيَقُولُ الْكَافِرُ يَا لَيْتَنِي كُنْتُ تُرَابًا 

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memperingatkan kepadamu (hai orang kafir) siksa yang dekat, pada hari manusia melihat apa yang telah diperbuat oleh kedua tangannya; dan orang kafir berkata: “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah”.

Wajar kalau ada orang yang tidak percaya dan yakin akan keberadaan Allah dan akhirat karena keduanya tidak terlihat. Makanya kita harus bersyukur sebesar-besarnya, karena kita bisa dan mampu yakin. Karena bukti adanya Allah sudah sangat jelas. Yang kecil saja dalam diri kita banyak yang tidak bisa dilihat. Apalagi Allah yang Maha Besar.

Orang yang yakin dan diikuti dengan amal, maka akan bertemu nanti di surga bersama Allah. Diantara rukun iman, hanya kitab berupa Al-Qur’an yang bisa kita lihat. Oleh karena itu Al-Qur’an adalah mukjizat petunjuk yang luar biasa.

KH. Amin Mahmud juga menasehati para santri. Dengan semangat yang berkobar ia berkata, Santri harus seperti Yusuf yg ditaksir Zulaikha. Muhammad yang ditaksir Khadijah. Jangan tergila-gila dan sibuk ngejar-ngejar wanita. Jangan seperti ayam. Jadilah orang yang baik, nanti kalian yang akan dicari.

“Hidup jangan hanya makan, tidur, kerja, dan kawin. Yang dicari jangan hanya urusan perut dan di bawah perut. Jangan hanya begitu. Itu nilai yang sangat rendah di mata Allah. Makanya kita juga harus mengurusi yang di atas perut. Dada dan kepala. Hati dan otak. Yang di atas lebih penting”, ungkapnya.

Tetapi beliau juga menekankan bahwa harus ada keseimbangan. Mencari dunia jangan sampai lupa akhirat. Mencari akhirat jangan sampai lupa dunia. Yang pertama memang adalah iman. Nilai seseorang dimata Allah tergantung imannya. Beliau mengutip KH. Abdullah Said, bahwa Iman itu seperti angka satu. Ditambah apapun, ia akan berarti dan semakin berarti. 1 ditambah nol saja jadi sepuluh 10. Begitulah iman. Itu bekal bagi kita hidup ini.

Hidup harus sungguh-sungguh. Sungguh-sungguh saja tidak cukup. Harus disertai dengan do’a. Islam adalah segalanya. Hudallinnas. Petunjuk bagi kehidupan manusia. Kita dilahirkan tidak bawa apa-apa dan tidak tau apa-apa. Fisik kita justru sangat jelek. Pakai baju saja jadi mendingan bagus. Kalau asli tidak pakai baju, maka sangat jelek. Tapi ahzanutaqwim, karena akal lah kita menjadi lebih baik dari makhluk lain.

Dengan mengutip QS. Al-Mujadilah: 11, beliau juga mengatakan bahwa akal saja tidak cukup. Akal juga mesti diisi dengan keimanan dan ilmu pengetahuan. Itulah orang yang Allah angkat derajatnya. Isi hidup dengan keyakinan kepada Allah dan  pelajarilahAl-Qur’an. Maka nanti kita akan bertemu lagi di kehidupan yang lebih lama dan hakiki.

More
articles